Paoy Paet, Banteay Meanchey – 19 Maret 2026 — Krisis kelaparan semakin nyata di provinsi-provinsi utara Kamboja, khususnya Banteay Meanchey dan Oddar Meanchey. Menurut laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) dan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) Kamboja, sekitar 48.000–65.000 keluarga (kurang lebih 250.000–320.000 jiwa) berada dalam kondisi IPC Phase 3 (Krisis) hingga IPC Phase 4 (Darurat) di wilayah pedesaan utara per Maret 2026.
Penyebab utama adalah kombinasi gagal panen berturut-turut akibat kekeringan ekstrem selama musim kemarau 2025–2026, banjir sporadis di akhir 2025, serta kenaikan harga pupuk dan bahan bakar yang membuat biaya produksi padi melonjak. Harga beras putih kualitas sedang di pasar lokal Paoy Paet, Sisophon dan Samraong saat ini berkisar 3.200–3.800 riel/kg (sekitar Rp 11.500–13.700/kg), naik 38–42% dibandingkan Maret 2025.
Banyak petani kecil di desa-desa perbatasan Thailand melaporkan telah menghabiskan stok padi mereka sejak Januari lalu. Beberapa keluarga hanya mengonsumsi satu hingga dua kali makan sehari, dengan menu utama nasi encer dicampur ubi, singkong, atau bahkan daun-daunan liar.
“Sudah dua bulan ini kami hanya makan nasi dengan garam dan sedikit ikan asin. Anak-anak sering sakit perut dan lesu. Saya jual ayam terakhir untuk beli beras, sekarang tinggal menunggu bantuan,” kata seorang ibu berusia 34 tahun di desa Prey Svay, Distrik Phnom Srok, Banteay Meanchey, yang enggan disebut namanya.
Data surveilans gizi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan angka malnutrisi akut pada anak di bawah lima tahun di dua provinsi utara naik menjadi 15,8–18,2% (dari sebelumnya sekitar 11–12% pada 2024). Angka stunting tetap tinggi di kisaran 32–38%, menjadikan wilayah ini salah satu hotspot gizi buruk tertinggi di Kamboja.
Pemerintah Kamboja telah mendistribusikan beras bantuan nasional sebanyak 15.000 ton ke 12 provinsi termasuk Banteay Meanchey dan Oddar Meanchey sejak Februari 2026. Namun, volume tersebut dianggap masih jauh dari cukup oleh LSM lokal dan WFP. Program Food Assistance for Assets (cash-for-work dan food-for-work) juga diperluas, tapi akses terhambat oleh infrastruktur jalan rusak pasca-banjir dan minimnya dana operasional.
WFP memperkirakan kebutuhan dana darurat sebesar USD 18–22 juta hingga akhir 2026 hanya untuk menutupi gap pangan di wilayah utara dan timur laut. Sementara itu, beberapa organisasi non-pemerintah melaporkan peningkatan migrasi musiman ke Thailand untuk mencari pekerjaan harian, meskipun risiko deportasi dan eksploitasi tenaga kerja semakin tinggi.
Menteri Pertanian Veng Sakhon dalam konferensi pers kemarin menyatakan pemerintah sedang mempercepat distribusi benih padi tahan kekeringan dan sistem irigasi kecil di musim tanam berikutnya. Namun para petani meminta solusi jangka pendek yang lebih cepat, termasuk subsidi langsung harga beras dan bantuan tunai tanpa syarat bagi keluarga rentan.
Krisis ini menjadi peringatan serius bahwa perubahan iklim, ditambah ketergantungan tinggi pada pertanian tadah hujan, terus mengancam ketahanan pangan Kamboja. Tanpa intervensi cepat dan berkelanjutan, jumlah penduduk yang mengalami kelaparan akut berpotensi meningkat dua kali lipat menjelang musim kemarau berikutnya.
